Wednesday, November 28, 2012

Terumbu Karang

Terumbu Karang


Ekosistem Terumbu Karang

Defenisi Ekosistem Terumbu Karang 

Istilah terumbu karang tersusun atas dua kata, yaitu terumbu dan karang, yang apabila berdiri sendiri akan memiliki makna yang jauh berbeda bila kedua kata tersebut digabungkan.  Istilah terumbu karang sendiri sangat jauh berbeda dengan karang terumbu, karena yang satu mengindikasikan suatu ekosistem dan kata lainnya merujuk pada suatu komunitas bentik atau yang hidup di dasar substrat (Wikipedia, 2010).

Terumbu karang adalah Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-­jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis­jenis moluska, krustasea, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton (Hartiko, 1995). 

Menurut Nybakken (1988), koloni karang adalah kumpulan dari berjuta-juta polip penghasil bahan kapur (CaCO3) yang memiliki kerangka luar yang disebut koralit.  Pada koralit terdapat septum-septum yang berbentuk sekat-sekat yang dijadikan acuan dalam penentuan jenis karang.

 
Faktor Pembatas Terumbu Karang  

Menurut Dahuri (2001) ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi sistem kelangsungan hidup terumbu karang, diantaranya adalah suhu, salinitas, cahaya dan kedalaman, kecerahan, paparan udara (aerial exposure), gelombang, dan arus. 

a.    Suhu 
Secara global, sebarang terumbu karang dunia dibatasi oleh permukaan laut yang isoterm pada suhu 20 °C, dan tidak ada terumbu karang yang berkembang di bawah suhu 18 °C.  Terumbu karang tumbuh dan berkembang optimal pada perairan bersuhu rata-rata tahunan 23-25 °C, dan dapat menoleransi suhu sampai dengan 36-40 °C. 

b.    Salinitas 
Terumbu karang hanya dapat hidup di perairan laut dengan salinitas normal 32­35 ‰. Umumnya terumbu karang tidak berkembang di perairan laut yang mendapat limpasan air tawar teratur dari sungai besar, karena hal itu berarti penurunan salinitas.  Contohnya di delta sungai Brantas (Jawa Timur).  Di sisi lain, terumbu karang dapat berkembang di wilayah bersalinitas tinggi seperti Teluk Persia yang salinitasnya 42 %. 

c.    Cahaya Dan Kedalaman
Kedua faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh zooxantellae yang terdapat di jaringan karang.  Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.

d.    Kecerahan
Faktor ini berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan perairan tinggi berarti penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi pula.

e.   Paparan Udara (Aerial Exposure)
Paparan udara terbuka merupakan faktor pembatas karena dapat mematikan jaringan hidup dan alga yang bersimbiosis di dalamnya. 

f.    Gelombang
Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami.  Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang. 

g.    Arus 
Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk.  Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif  apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.

Struktur Komunitas Ekosostem Karang

Berdasarkan jarak dari pantai dan keterpaparannya terhadap arus dan gelombang, beberapa komunitas dalam ekosistem terumbu karang menempati habitatnya tersendiri. Menurut Tomascik et al. (1997) :

a) Back reef, merupakan daerah terumbu karang bagian dalam yang terlindung, biasanya masih didominasi oleh ekosistem lamun atau makrofita lainnya; kedalaman agak dangkal 1-2 meter. 

b) Reef flat, merupakan daerah paparan terumbu yang rentan terhadap surut, dimana terjadi peralihan komunitas. Di daerah ini sudah mulai terlihat adanya beberapa koloni kecil karang, terutama karang bercabang dan submasif; kedalaman dangkal sekitar 1 meter. 

c) Reef crest, merupakan daerah tubir dimana sebagian besar bentuk pertumbuhan karang dapat ditemui.  Biasanya jenis karang adalah yang dapat bertahan terhadap hempasan gelombang dari laut lepas.  Selain itu, jenis-jenis biota laut terutama ikan cukup melimpah di daerah ini.  Kedalaman berkisar 2-3 meter. 

d) Reef  slope, merupakan daerah lereng yang landai atau curam; dengan luas permukaan substrat yang lebih lapang sehingga memungkinkan jenis benthik banyak mendominasi selain karang. Kedalaman sekitar 3-10 meter. 

e) Fore-reef slope atau reef  base, merupakan lanjutan daerah lereng atau hanya merupakan dasar merata yang cenderung m ulai tertutupi oleh sedimentasi, sehingga terkadang lebih banyak substrat berpasir yang ditemui.  Di daerah ini sudah jarang terlihat komunitas karang keras yang lebat, tetapi beberapa jenis karang lunak dan hewan benthik invertebrata lainnya yang banyak ditemui.  Kedalaman di atas 10 meter.

Asosiasi Terumbu Karang

Jenis biota yang berasosiasi merupakan kelompok biota yang khas menghuni daerah terumbu karang, dan beberapa di antaranya jarang bahkan tidak ditemui di ekosistem yang lain.  Dalam tataran sistematika makhluk hidup, organisme laut juga terbagi atas 2 kelompok besar yakni tanaman dan hewan  (Dahuri, 2001).

Menurut Tomascik et al. (1997), beberapa jenis organisme laut yang umumnya berasosiasi di ekosistem terumbu karang antara lain Alga/Rumput Laut, Sponge, Hydra dan Ubur-ubur, Anemon Laut dan Karang Lunak, Moluska, Krustase,  Ekinodermata, Ikan Karang dan Reptilia Laut :  
Organisme yang tinggal atau memiliki aktivitas di terumbu karang, memilliki interaksi baik antara spesies satu dengan spesies lain, bahkan dalam satu spesies (Nybakken 1988).

Menurut Nybakken (1988), asosiasi yang terjadi pada daerah terumbu karang, antara lain :

a)    Asosiasi organisme berbeda spesies

Simbiosis adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda jenis. Hubungan itu dapat dalam kategori :

1.    Mutualisme
Simbiosis dengan kedua simbion mendapat keuntungan, contoh:
Ø Ikan dokter (Labridae) dan penyu. Ikan memakan parasit yang menempel pada punggung penyu.
Ø Shrimp goby (Amblyeleotris gymnocephala) dengan udang (Alpheus sp) yang obligat mutualisme.

2.    Komensalisme
Simbiosis bila salah satu mendapat keuntungan sementara yang lain tidak untung juga tidak rugi, contoh
Ø Krustasea, moluska, cacing yang tinggal pada gorgonian dan crinoid. Ketiga kelompok hew an disebut sebelumnya mendapat tempat tinggal dan perlindungan dari musuh, sementara gorgonian tidak mendapat sesuatu, juga tidak kehilangan.
Ø Kuda laut dengan lamun

3.    Parasitisme
Simbiosis dengan satu pihak mendapat untung, sementara pihak lain mendapat kerugian, sebagai contoh :
Ø Hewan pembor karang dengan karang sebagai inang
Ø  Copepoda (krustasea) parasit pada ikan gobi (Pleurosicya boldninghi)

b)    Interaksi dalam satu spesies

Schoaling dan schooling pada ikan. Schoaling adalah sekelompok ikan dalam satu spesies yang secara bersama-sama mencari makan, migrasi, bertelur, atau istirahat. Anggota kelompok memiliki bentuk, ukuran atau status sosial yang tidak mesti sama juga tidak punya pola pergerakan yang sama. Sementara schooling anggota memiliki status social yang sama dan bergerak dalam satu koordinasi.

Terumbu Karang Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Sulham Syahid

0 komentar: