Wednesday, November 28, 2012

Makalah Oseonografi tentang Keseragaman dan Adaptasi Biota Intertidal

Makalah Oseonografi tentang Keseragaman dan Adaptasi Biota Intertidal


BAB I
PENDAHULUAN
I.1        Latar Belakang
Ekosistem pesisir dan lautan merupakan sistem akuatik yang terbesar di planet bumi. Ukuran dan kerumitannya menyulitkan kita untuk dapat membicarakannya secara utuh sebagai suatu kesatuan. Akibatnya dirasa lebih mudah jika membaginya menjadi sub-bagian yang dapat dikelola, selanjutnya masing-masing dapat dibicarakan berdasarkan prinsip-prinsip ekologi yang menentukkan kemampuan adaptasi organisme dari suatu komunitas. Tidak ada suatu cara pembagian laut yang telah diajukan yang dapat diterima secara universal. Cara pembagiannya telah banyak dipakai oleh para ilmuwan dan pakar kelautan di seluruh dunia.
Salah satu bagian dari pembagian ekosistem di kawasan pesisir dan laut adalah kawasan intertidal (intertidal zone). Wilayah pesisir atau coastal adalah salah satu sistim lingkungan yang ada, dimana zona intertidal atau lebih dikenal dengan zona pasang surut adalah merupakan daerah yang terkecil dari semua daerah yang terdapat di samudra dunia, merupakan pinggiran yang sempit sekali, hanya beberapa meter luasnya  dan terletak di antara air tinggi (high water) dan air rendah (low water). Zona ini merupakan bagian laut yang paling dikenal dan paling dekat dengan kegiatan kita apalagi dalam melakukan berbagai macam aktivitas, hanya di daerah inilah penelitian dapat langsung kita laksanakan secara langsung selama periode air surut, tanpa memerlukan peralatan khusus.
Letak zona intertidal yang dekat dengan berbagai macam aktifitas manusia, dan memiliki lingkungan dengan dinamika yang tinggi menjadikan kawasan ini sangat rentan terhadap gangguan. Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh terhadap segenap kehidupan di dalamnya.  Pengaruh tersebut salah satunya dapat berupa cara beradaptasi. Adaptasi ini diperlukan untuk mempertahankan hidup pada lingkungan di zona intertidal. Keberhasilan beradaptasi akan menentukan keberlangsungan organisme di zona intertidal.
I.2        Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan zona intertidal?
2. Bagaimana keseragaman organisme di zona intertidal?
3. Bagaimana bentuk adaptasi oraganisme di zona intertidal?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Definisi Zona intertidal
            Zona intertidal adalah zona littoral yang secara reguler terkena pasang surut air laut, tingginya adalah dari pasang tertinggi hingga pasang terendah. Didalam wilayah intertidal terbentuk banyak tebing-tebing, cerukan, dan gua, yang merupakan habitat yang sangat mengakomodasi organisme sedimenter.  Morfologi di zona intertidal ini mencakup tebing berbatu, pantai pasir, dan tanah basah / wetlands.
Zona intertidal (pasang-surut) merupakan daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat di samudera dunia. Merupakan pinggiran yang sempit sekali hanya beberapa meter luasnya. Terletak di antara air tinggi dan air rendah. Zona ini merupakan bagian laut yang mungkin paling banyak dikenal dan dipelajari karena sangat mudah dicapai manusia. Hanya di daerah inilah penelitian terhadap organisme perairan dapat dilaksanakan secara langsung selama periode air surut, tanpa memerlukan peralatan khusus. Zona intertidal telah diamati dan dimanfaatkan oleh manusia sejak prasejarah (Nybakken, 1988).
2.2       Keragaman di Zona Intertidal
Keragaman faktor lingkungannya dapat dilihat dari perbedaan (gradient) dari faktor lingkungan secara fisik mempengaruhi terbentuknya tipe atau karakteristik komunitas biota serta habitatnya. Sejumlah besar gradien ekologi dapat terlihat pada wilayah intertidal yang dapat berupa daerah pantai berpasir, berbatu maupun estuari dengan substrat berlumpur. Perbedaan pada seluruh tipe pantai ini dapat dipahami melalui parameter fisika dan biologi lingkungan yang dipusatkan pada perubahan utamanya serta hubungan antara komponen biotik (parameter fisika - kimia lingkungan) dan komponen abiotik (seluruh komponen makhluk atau organisme) yang berasosiasi di dalamnya.
Biota pada ekosistem pantai berbatu adalah salah satu daerah ekologi yang paling familiar, habitat dan interaksinya sudah diketahui oleh ilmuan, penelitian diadakan di pulau Cruger yang pantai utaranya merupakan ( freshwater ) air tawar dan berbatu. Fauna pada pantai berbatu pulau cruger berkarakteristik dominan pada binatang air tawar. Sebagian besar berupa Dipterans, Nematodes, Microannelida, Gastropoda, Bivalves dan Flatworms secara keseluruhan, macroinvertebrate yang ada di pantai ini berasal dari golongan Tubellaria, Nematoda, Oligochaeta, Gastropoda, Dreissna, Acari, Amphipoda, Ephemeroptera, Trichoptera, coteoptera, Ceratopogonidae, Chironomidae. Sama seperti lingkungan air tawar, serangga menjadi hal umum di pulau cruger . Serangga yang terdapat adalah Epheraroptera, Trichoptera, coleoptera dan diptera ( Prajitno, 2009)
 Dilingkungan laut khususnya di intertidal. Spesies yang berumur panjang cenderung terdiri dari berbagai hewan inverbrata. hewan-hewan intertidal dominan yang menguasai ruang selain Mytilus californianus yang terdapat dalam jumlah banyak di pesisir pasifik adalah teritip Balanus Cariogus dan Balanus glandula. Dua spesies tersebut terdapat melimpah di wilayah intertidal walaupun kenyataannya mereka bersaing dengan M.californianus hal ini menyebabkan pertumbuhan teritip dapat berlangsung dengan baik. Pisaster Ochraceus merupakan predator kerang yang rakus sehingga secara efektif mencegah kerang menempati seluruh ruang (Nybakken, 1988).
Pantai yang terdiri dari batu-batuan (rocky shore) merupakan tempat yang sangat baik bagi hewan-hewan atau tumbuhan-tumbuhan yang dapat menempelkan diri pada lapisan ini. Golongan ini termasuk banyak jenis gastropoda, moluska dan tumbuh-tumbuhan yang berukuran besar. Dua spesies Uttorina undulata dan tectarius malaccensis, tinggal dan hidup di bagian batas atas dari pantai di bawahnya berturut-turut ditempati oleh jenis spesies lain monodonta labio dan Nerita undata. Kemudian oleh cerithium morus dan Turbo intercostalis. Akhirnya pada batas yang paling bawah terdapat lambis-lambis dan Trochus gibberula (Hutabarat, 2008).

Jenis-jenis biota yang hidup di Zona Intertidal :


Pantai berbatu
Pantai berpasir
Pantai berlumpur
Upper zone
Alga yang menjalar
Cyanobacteria (bakteri hijau biru)
cacing kecil,
periwinkles, kepiting, rajungan
Scylla olivacea, Scylla serrata dan Scylla paramamosain dimana Scylla olivacea
nematoda dan oligochaetes
Middle zone
Bernakel, Kerang
terkadang tiram, bintang laut, mussels, kepiting, bernacles, isopods, Mata Kebo (Turbo brunnes), Cephalopoda (cumi-cumi, gurita dan notilus), Bivalvia (kijing, tiram dan kepah), Crustacea, nekton
Scaphopoda (keong gading), Crustacea, Cacing policaeta, bivalva, Donax sp. Mytilus edulis,
Harpacticoid copepoda, mystacocarid, nematoda, oligochaetes dan turbelaria
lower zone
alga merah, organisme penghasil kapur, kebanyakan berbentuk menjalar, terkadang kelp yang lebat (alga coklat) tunicata (sea squirt), Chiton, lely laut, Asterias asterina, sun star, Brittle star (Ophiura), bulu babi(stongylocentrotus, nekton
ikan badut, ikan lepu, ikan barakuda, ikan baronang, botana, Kepe strip delapan, Kepe coklat,kepe monyong zebra, kambingan, Platak asli, Brown Kelly, Brajanata, keling kalong, Kenari biasa, Kerapu layar, Dokter ular bibir merah, Dokter neon, Zebra ekor hitam, Bluester Biasa, Betok , Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halophila minor, Thalassia hemprichii, Cymodocea serrulata, Syringodium isoetifolium.
40-70%, nematoda dan crustacea,nekton






2.2       Bentuk Adaptasi Biota di Zona Intertidal
Bentuk adaptasi adalah mengcakup adaptasi struktural, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku. Adaptasi struktural merupakan cara hidup untuk menyesuaikan dirinya dengan mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh ke arah yang lebih sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidup.
Adaptasi fisiologi adalah cara makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara penyesuian proses-proses fisiologis dalam tubuhnya. Adaptasi tingkah laku adalah respons-respon hewan terhadap kondisi lingkungan dalam bentuk perubahan tingkah laku.
Organisme intertidal memilki kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang dapat berubah secara signifikan, pola tersebut meliputi,
a).        Daya Tahan terhadap Kehilangan air
Organisme laut berpindah dari air ke udara terbuka, mereka mulai kehilangan air. Mekanisme yang sederhana untuk menghindari kehilangan air terlihat pada hewan-hewan yang bergerak seperti kepiting dan anemon.
b).        Pemeliharaan Keseimbangan Panas
Organisme intertidal juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan dingin yang ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur tubuh untuk menjaga keseimbangan panas internal.
c). ­       Tekanan mekanik
Gerakan ombak mempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai berbatu dan pada pantai  berpasir. Untuk mempertahankan posisi menghadapi gerakan ombak, organisme intertidal telah membentuk beberapa adaptasi.
d).        Pernapasan
Diantara hewan intertidal terdapat kecenderungan organ pernapasan yang mempunyai tonjolan kedalam rongga perlindungan untuk mencegah kekeringan. Hal ini dapat terlihat jelas pada berbagai moluska dimana insang terdapat pada rongga mantel yang dilindungi cangkang.
e).        Cara Makan
Pada waktu makan, seluruh hewan intertidal harus mengeluarkan bagian-bagian berdaging dari tubuhnya. Karena itu seluruh hewan intertidal hanya aktif jika pasang naik dan tubuhnya terendam air. Hal ini berlaku bagi seluruh hewan baik pemakan tumbuhan, pemakan bahan-bahan tersaring, pemakan detritus maupun predator.
f ).        Tekanan Salinitas
Zona intertidal juga mendapat limpahan air tawar yang dapat menimbulkan masalah tekanan osmotik bagi organisme intertidal yang hanya dapat menyesuaikan diri dengan air laut. Kebanyakan tidak mempunyai mekanisme untuk mengontrol kadar garam cairan tubuhnya dan disebut osmokonformer. Adaptasi satu-satunya sama dengan adaptasi untuk melindungi dari kekeringan
g).        Reproduksi
Kebanyakan organisme intertidal hidup menetap atau bahkan melekat, sehingga dalam penyebarannya mereka menghasilkan telur atau larva yang terapung bebas sebagai plankton. Hampir semua organisme mempunyai daur perkembangbiakan yang seirama dengan munculnya arus  pasang surut tertentu, seperti misalnya pada waktu pasang purnama.


BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Zona intertidal adalah zona littoral yang secara reguler terkena pasang surut air laut, tingginya adalah dari pasang tertinggi hingga pasang terendah. Didalam wilayah intertidal terbentuk banyak tebing-tebing, cerukan, dan gua, yang merupakan habitat yang sangat mengakomodasi organisme sedimenter.  Morfologi di zona intertidal ini mencakup tebing berbatu, pantai pasir, dan tanah basah / wetlands.
Keragaman faktor lingkungannya dapat dilihat dari perbedaan (gradient) dari faktor lingkungan secara fisik mempengaruhi terbentuknya tipe atau karakteristik komunitas biota serta habitatnya. Sejumlah besar gradien ekologi dapat terlihat pada wilayah intertidal yang dapat berupa daerah pantai berpasir, berbatu maupun estuari dengan substrat berlumpur.
Bentuk adaptasi adalah mengcakup adaptasi struktural, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku. Adaptasi struktural merupakan cara hidup untuk menyesuaikan dirinya dengan mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh ke arah yang lebih sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidup.
3.2       Kritik dan Saran
           Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini sangat jauh dari kesempuranaan maka ktitik dan saran sangat membantu dalam kesempurnaan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA
Syahid, S. 2012. Makalah Oseonografi tentang Keseragaman dan Adaptasi Biota Intertidal. Universitas Hasanuddin, Makassar.
Abivaley. 2012. Adaptasi Biota Zona Intertidal. Universitas Trunojoyo, Madura
Hutabarat,s dan Steward,M.E.2008. Pengantar oseanografi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Nurfitriana. 2012. Faktor-faktor penyebab Distribusi Organisme dan Keanekaragaman Popolasi Di Daerah Intertidal. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Pekanbaru, Riau.
Nybakken, J.W. 1998. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.
Prajitno, A. 2009. Biologi Laut. Universitas Brawijaya. Malang.

Makalah Oseonografi tentang Keseragaman dan Adaptasi Biota Intertidal Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Sulham Syahid

0 komentar: